Bagikan Halaman:

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam Lucky Agung Binarto memimpin jajarannya, melakukan razia kru kapal asing yang sedang labuh jangkar di perairan Batam, Sabtu (30/9). Dari operasi ini, pihak imigrasi tak menemukan kru kapal yang melanggar izin keimigrasian.

Ia mengatakan dari awal tahun hingga sekarang, puluhan kru kapal yang melanggar aturan keimigrasian.

“Sebanyak 34 orang yang kami deportasi. Oleh sebab itu kegaiatan hari ini (30/9), sesuatu yang rutin yang terus kami gelar dalam rangka pengawasan orang asing di laut,” kata Lucky, Sabtu (30/9).

Ia mengatakan dari 34 orang pihaknya deportasi, kebanyakan Warga Negara India.

Pelanggaran keimigrasian ini sering dilakukan pihak kru kapal. Hal ini disebabkan oleh berbagai penyebab salah satunya yakni kapal yang bersangkutan tak ingin labuh jangkar di Malaysia karena biaya yang mahal. Lalu kapal itu diam-diam labuh jangkar di wilayah Indonesia.

“Hal ini sering kami temui,” ucapnya. ‘

Lucky menuturkan sesuai prosedur imigrasi, harusnya setiap warga negera asing melaporkan ke Kantor Imigrasi saat memasuki wilayah Indonesia.

“Ada aturannya, walau mereka tetap di kapal. Tetap harus melapor,” ungkapnya.

Masih terkait dengan kru kapal asing yang nakal ini, Lucky menuturkan tahun lalu sebanyak 70 orang yang mereka deportasi. Walau sudah melakukan tindakan tegas ini, ia mengatakan tetap saja ada beberapa orang asing yang tak melapor saat memasuki wilayah Indonesia. Padahal pihak imigrasi sudah mempermudah pelaporan bagi orang asing yang bekerja sebagai kru kapal.

“Sudah ada kemudahan,” tuturnya.



Dari pantauan di lapangan, ada beberapa kapal yang dirazia mulai dari kapal untuk penelitian hingga bantuan bagi pengeboran minyak lepas pantai. Di kapal yang sedang melakukan penelitian tersebut berbendera Panama. Krunya kebanyakan berasal dari Lebanon, Honduras, Amerika hingga Afrika. Di kapal itu ada sebanyak 12 kru, dan mereka semua memiliki kelangkapan izin keimigrasian.

Hal yang sama juga di Kapal Labuan asal Malaysia. Sebanyak tiga orang kru kapal warga negar asing, selebihnya WNI. Pengecekan terhadap tiga orang WN Malaysia, tak ditemukan juga pelanggaran.

Seorang kru kapal yang enggan nama kapal dan namanya disebut menuturkan, biasanya kapal-kapal asing sedikit enggan labuh jangkar ke Singapura. Karena biayanya cukup besar, dalam sehari biaya labuh jangkarnya 1000 Dollar Singapura. Sementara itu di Indonesia, biayanya lebih murah.

“Kadang itu yang membuat kapal-kapal asing diam-diam memasuki perairan Indonesia,” tuturnya.

Sumber: batampos.co.id, liputan6.com

Category — Berita Utama